Title-nya mungkin rada-rada naif dan bukan hal yang baru, tapi catatan ini terinspirasi dari curhatan teman2 yang sama2 orang tua plus pengalaman pribadi menghandle si sulung yang lagi memejehna (istilah urang sunda mah). Jika kita bisa menghabiskan hampir 4 tahun menyelesaikan jenjang s1 (kalo lulusnya tepat waktu) ditambah s2, bahkan s3, dijumlahkan dengan sekolah sejak taman kanak-kanak maka hampir separuh lebih usia kita dihabiskan untuk melalap bangku sekolahan. Namun tidak sekalipun kita disodorkan mata pelajaran atau mata kuliah cara menjadi orang tua yang baik, tambahan lagi kalo ternyata kita juga pensiun baca buku begitu lulus sekolah or kuliah, hihihi.
Balik lagi ke judul di atas, ternyata salah seorang sahabat yang notabene lulusan s2 dan menyandang gelar master of psikologi perkembangan, masih terheran-heran melihat tingkah laku anaknya yang rada2 kelewat normal menurut kaca mata orang dewasa yang sudah kehilangan sense of creativitynya. Soalnya si anak dengan bangga memamerkan karyanya berjudul body painting alias menggambar pada tubuh adiknya yang sama-sama ketawa ketiwi, sang ibu yang master ini bertanya dengan nada tinggi alias marah2 "kamu apakan adikmu"?disusul dengan kalimat yang membanjir dan rada2 menghakimi,hehe lupa sama teori ya bu.
Dari cerita itulah ternyata gerakan ini perlu diinisiasi lebih banyak, soalnya biar udah baca banyak buku perkembangan anak, ikut pelatihan, kita semua terutama yang menulis catatan ini butuh dukungan dan teman yang mengingatkan untuk bersikap proporsional menghadapi ulah anak-anak, semoga anda tertarik dan tergerak untuk menginisiasi sekolah orang tua minimal di lingkungan terdekat,tertarik?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar