Senin, 05 Agustus 2013

Kebiasaan Antri yang Hilang: Pudarnya Good Habits dalam Pendidikan


Beberapa hari ini sosmed diramaikan dengan berita-berita pengendara roda empat dan roda dua yang memaksa masuk ke jalur transjakarta. Mulai dari ulah seorang mahasiswa yang mengaku sebagai anak jendral hanya dengan berbekal kartu nama sang jendral memaksa petugas membuka portal, hari berikutnya seorang ibu yang memaksa membuka portal dengan alasan suami terkena sakit jantung, namun ditambah dengan kata-kata yang tidak pantas, lalu nasib apes petugas yang terkena bogem mentah oleh pengemudi yang lagi-lagi nekad menerobos jalur transjakarta, bahkan kejadian berikutnya oknum petugas yang memaksa memasuki jalur transjakarta dan ditegur pramudi Transjakarta Ibu Deliana, bahkan disita kuncinya dan diserahkan pada petugas lain, tapi lagi-lagi tidak ada tindakan apapun, dan kejadian lainya adalah ulah sopir salah satu kedubes yang juga menerobos jalur Transjakarta. http://www.merdeka.com/peristiwa/mereka-yang-berulah-terobos-jalur-transjakarta/sopir-mobil-kedubes-nekat-terobos-jalur-transjakarta.html

Hmmm ada apa dengan budaya antri dan rasa malu yang semakin hilang dari good habits kita? menghalalkan segala cara untuk memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa peduli kepentingan orang lain, saya yakin mereka-mereka yang melakukannya bukanlah orang-orang berpendidikan rendahan dan berekonomi terbatas, mereka membawa kendaraan roda empat yang masih menjadi simbol orang-orang the have, mereka berseragam lengkap yang seharusnya menunjukkan simbol keteladanan dan pengayoman bagi masyarakat banyak.

Belum lagi jika kita ingin mengupas tuntas budaya antrian dalam mudik lebaran, saling sikut di terminal, berdesak-desakan di stasiun, jalur padat merayap di jalan raya, bersitegang di ATM, menyerobot di Bank, semakin jelaslah masalahnya yang diperlukan bangsa ini bukan hanya pembaharuan kurikulum pendidikan, penambahan jam belajar mengajar, tempat bimbel di setiap tikungan, tapi belajar hal mendasar yaitu GOOD HABITS MENGANTRI

saya teringat tulisan Ayah Edy tentang penanaman budaya antri di Australia https://www.facebook.com/photo.php?fbid=510945802309859&set=a.144983902239386.35784.141694892568287&type=1&theater

guru Australia tersebut menjelaskan:
“Kami tidak terlalu khawatir jika anak2 sekolah dasar kami tidak pandai Matematika” kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

“Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?” Karena yang terjadi di negara kita justru sebaliknya.


Inilah jawabanya;

1. Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 Tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri.

2. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi Penari, Atlet Olimpiade, Penyanyi, Musisi, Pelukis dsb.

3. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan Etika Moral dan Pelajaran Berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.
 

Penjelasan yang luar Biasaa (unpredicted), masih dari artikel yang sama dan saya copy sepenuhnya dari Ayah Edy 

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya;”

1. Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting..

4. Anak belajar berdisiplin dan tidak menyerobot hak orang lain.

5. Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri. (di Jepang biasanya orang akan membaca buku saat mengantri)

6. Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.
7. Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

8. Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

9. Anak belajar disiplin, teratur dan kerapihan.

10. Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

11. Anak belajar bekerjasama dengan orang2 yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

12. Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain



Hari ini saya merenungkan kembali aya yang saya peroleh dari anak saya yang bersekolah, dia mungkin jago secara akademik, semoga akhlaknya lebih indah, karena pelajaran mengantri yang belakangan ini wara-wiri di mata saya membuat saya mereungkan kembali bahwa ANTRI adalah pembelajaran GOOD HABITS yang luar biasaa

Jumat, 02 Agustus 2013

Ada apa dengan Good Habits

facebook.com
Ibu, bapak, akang, eceu pernah tidak dibuat kesal oleh perilaku pasangan atau anak-anak yang begitu saja menaruh handuk basah bekas pakai di sembarang tempat (di kasur atau teronggok di lantai), atau memakai baju gonta ganti dalam sehari.. hingga cucian menggunung mengalahkan gunung himalaya, hihi.

atau bisa jadi mainan yang berserakan, si kecil sih seru-seru saja ketika bermain, tapi kalo giliran merapikan, they point a finger at our nose mommy hihi.

itulah sekelumit kejadian rutin di hampir semua rumah tangga, kebiasaan-kebiasaan sepele yang tidak kita sadari menjadi karakter kita, bahkan jika ingin diurut sangat banyak kebiasaan yang baik dan buruk yang membangun karakter kita.

kebiasaan membuang sampah di tempatnya, kebiasaan makan minum sesuai adab (berdo"a, sambil duduk dan menggunakan tangan kanan), kebiasaan berdo'a sebelum dan sesudah beraktivitas, kebiasaan mendahulukan membayar hutang dan zakat sebelum memenuhi keinginan, kebiasaan berkata-kata sopan, jujur, dan bersemangat, kebiasaan menghargai orang lain, kebiasaan menaruh benda di tempatnya, kebiasaan membersihkan hati dan pikiran dengan ibadah dan pikiran positif, wah masih banyak lagi...

Kebiasaan-kebiasaan baik itu yang sangat kita harapkan dari anak-anak kita, sudahkah diajarkan? mudahkah mengajarkannya? seberapa sering permintaan kecil kita untuk membereskan mainannya berujung omelan dari kita?

apakah menurut ayah ibu, akang eceu, pengajaran good habits ini penting? seberapa pentingkah dibandingkan menjejalinya dengan pembelajaran akademik? mengajarkan calistung sejak dini hingga ikut kursus calistung di usia balitanya, menjejalinya dengan bimbel berbagai mata pelajaran, namun ternyata anak-anak kita masih saja menaruh handuk sebarangan, makan minum tanpa adab, buang sampah sembarangan, berkata-kata kasar, mementingkan dirinya sendiri tanpa peduli pada saudaranya?

atau jangan-jangan satu hal penting terlupakan, keteladanan yang hilang dari pendidikan good habits kita?

kebiasaan baik tampaknya hal sepele, tapi kita juga lupa mengajarkannya pada anak-anak kita, kebiasaan baik mungkin tidak sekeren menjadikan anak-anak kita juara umum di sekolah atau juara berbagai ajang perlombaan, tapi kebiasaan baiklah yang mengajarkan anak-anak kita belajar bertanggung jawab, mandiri, memiliki skala prioritas, menjadi manusia dewasa yang bahagia karena dia dapat mengenali kebutuhan pribadinya dan mampu memenuhinya sendiri.

logikanya sederhana jika kebutuhan pribadinya sendiri tidak dapat dipenuhi dengan baik, bagaimana dapat menjadi imam yang mengarahkan kebutuhan pasangan dan anak-anaknya kelak?

bersambung dengan materi "bagaimana mengajarkan Good Habits pada Anak?"