Selasa, 05 Agustus 2014
Aksaraku: [TIPS] Mengirimkan Naskah Parenting ke HU REPUBLIK...
Aksaraku: [TIPS] Mengirimkan Naskah Parenting ke HU REPUBLIK...: Assalamu alaikum wr wb, Pengasuhan merupakan topik yang selalu menarik untuk dibahas. Apalagi, tiap keluarga menjalankan pola pen...
Selasa, 20 Mei 2014
Permainan Educreative Kaya Gizi dan Nutrisi Kreativitas
Dunia anak adalah dunia bermain. Dunia eksplorasi penuh
warna dan ceria, berbagai media permainan disediakan untuk menstimulasi
kecerdasan anak sejak dini. Tidak heran jika industry mainan anak adalah industry
yang sangat pesat berkembang, karena
setiap orang tua ingin memberikan yang terbaik pada anak-anaknya, mainan murah
meriah yang bisa dibeli dengan harga beberapa ribu rupiah saja hingga mainan
yang harganya jutaan bahkan puluhan juta rupiah tersedia.
Namun pertanyaannya adalah apakah mainan yang ditawarkan
tersebut termasuk mainan bergizi yang kaya stimulasi atau mainan dengan warna
meriah dan fasilitas mewah namun miskin kreativitas?
Yang mengejutkan dari industry mainan ini adalah Indonesia
sudah dikuasai mainan-mainan impor yang belum tentu kaya stimulasi, ketika
Pabrik kreativitas berkesempatan ikut dalam open house Dekranasda Kota Bandung
yang diadakan di Balai kota Bandung dan dibuka oleh Bapak Ridwan Kamil senin 12
Mei 2014 lalu, data yang diperoleh menunjukkan bahwa hampir 61% mainan yang
beredar di Indonesia adalah mainan impor made in China. Mainan-mainan kreatif
asli Indonesia semakin langka, kekayaan Indonesia yang bisa menjadi sumber
inspirasi dan ide bagi anak-anak mengembangkan ide-idenya dalam berkreasi
semakin sulit, kita semakin menjadi budak dari industry, bahkan dalam dunia
permainan sekalipun, anak-anak Indonesia dicekoki dengan mainan-mainan yang miskin
nilai dan makna, berbicara industry mainan maka berbicara juga mengenai serapan
SDM Indonesia bagi pengembangan industry mainan dalam negeri.
Sebagai ibu dari dua orang putra-putri yang sedang dalam
masa bermain, saya merasakan sekali kurangnya permainan bergizi yang mampu
menstimulasi kecerdasan anak dengan harga yang bersahabat, saya yakin banyak
juga orang tua di luar sana yang merasa media berkreasi untuk anak kurang,
kalaupun ada harganya yang tidak terjangkau kantong ibu-ibu seperti saya yang
harus berpikir tujuh keliling membeli mainan bagus nan mahal. Namun segala
keterbatasan ini menjadi ide buat saya membuat paket-paket mainan yang kaya ide
dan kreativitas, serta murah di kantong.
Stimulasi kreativitas sejak dini menjadi visi pabrik
kreativitas mengembangkan divisi mainan creative yang
kaya gizi dan inspirasi
untuk anak, permainan-permainan yang diproduksi adalah mainan yang diproduksi
lewat pemberdayaan masyarakat di sekitar lokasi pabrik kreativitas.Minggu, 16 Maret 2014
Happy Wife, Happy Life
“Teh, nikah tuh seru ga sih?” Tanya seorang rekan yang baru
lulus kuliah. Nah, kalo ada yang nanya gini semangat 45 jelasinnya. Dan paling
seneng kalo yang nanyanya cowo, saya jadi bisa debat apa visi pernikahan,
impian pernikahan? Apakah memilih pasangan karena cinta, fisik semata, atau
punya visi yang jelas? Apakah memilih wanita untuk menjadi istri lalu
melahirkan anak-anak saja, atau menjadi pendamping seiring sejalan dan menjadi
ibu yang melahirkan generasi hebat, dan bersama-sama menghebatkan keluarga.
Suami dan istri punya peran sama pentingnya untuk membangun
keluarga bahagia, dan itu artinya memahami bahwa peran suami dan istri adalah
saling melengkapi. (sudah seringkan dengar pembahasan seperti ini, dan sering
juga dengar bahwa “istri solehah adalah istri yang diridhoi suami”
mudah-mudahan kalimat pamungkas itu juga dilengkapi bahwa “suami yang soleh,
adalah yang paling baik akhlaknya pada keluarganya”
So, hari ini saya hanya akan focus pada bagaimana sebuah
rumah yang bahagia itu dimulai dari Ibu yang Bahagia. Apakah berarti seorang
ayah tidak bahagia? Atau anak-anak tidak bahagia? Hehe semuanya haruslah
bahagia, hanya saja ada beberapa poin yang menjadikan seorang ibu menjadi dynamo
kebahagiaan. Dan dynamo itu akan
berjalan pada operator yang baik yaitu suami. So beberapa tipsnya
1. Awali dengan visi yang jelas
a. Bapak ibu, apa sih visinya menikah? Kalo jawabannya “memiliki keluarga sakinah, mawaddah, warahmah, pliss jangan main-main dengan kalimat sacral itu, jangan sekedar jadi retorika, tapi harus ada aksi nyata, kalo masih begitu abstrak, buat visi yang lebih konkrit, boleh pake rentang waktu, misalnya usia pernikahan kelima pengen haji bareng pasangan, pengen ngajak anak-anak belajar langsung dengan jalan-jalan keliling Indonesia di usia pernikahan 10 tahun, bikin acara seru tiap minggu buat stimulasi si kecil, konkrit, jelas, terukur.
b. Para suami tanyalah istri anda tercinta apa impiannya? Bagaimana anda bisa membantunya mewujudkan impiannya? Begitu juga istri, tanyalah pada suami apa impiannya? Bagaimana cara ibu membantu suami mewujdukan passionnya? Nah ini biasanya akan menular pada anak-anak.
2. Komunikasi yang menyenangkan
a. Para suami tanyalah para istri “are you happy with me? Wow pertanyaan yang nyess banget kayanya ya, para ibu pernah ditanya kaya gini? Duh kalo ditanya kaya gini sama suami, baru ditanya doang, langsung dengan mantap saya bilang “I’m very happy with you” dan peluk si dia sebagai tanda terima kasih untuk pertanyaannya. Ternyata untuk nanya kaya gini aja sebenernya para suami itu rada empot-empotan, khawatir jawabannya jadi buah simalakama, hehe. So bu, jawablah dengan mesra “aku sangat happy, dan terima kasih sudah bertanya”
b. Ibu-ibu tuh pengen suaminya peka, misalnya kalo lagi repot paling emoh minta tolong suami, berasa segala bisa, jadi kadang kudu para ayah ini yang peka, sekedar ditanya “yank, perlu dibantu?” nah bagusnya jawaban si ibu “terima kasih sayang sudah bertanya, bisa bantu sedikit yang ini….” Kalo suaminya ga peka, nah waktunya si ibu yang minta tolong, suarakan dengan lantang, ga usah nunggu si do’I peka, jadi peluklah dengan mesra sambil bilang “yah, tolong bunda mandiin anak-anak ya” hehe
3. Pahami bahasa cinta pasangan
Bahasa cinta anda biasanya dengan kata-kata atau sentuhan? Nih kudu tahu ya wahai para bapak dan para ibu, misalnya apakah dengan mengatakan I love you, pake sms, whats app, we chat, inbox fb, atau langsung menatap matanya dan mengatakan I love you, atau dengan memeluknya ketika tidur, memegang tanganya ketika berjalan bersama, menggandengnya, asal jangan memegang tas tangan para ibu ya pa, bapak lebih gagah kalo gendong anak yang beratnya belasan kilo dari pada gendong tas tangan ibu yang cuman setengah kilo. So pahami bahasa cinta pasangan, apakah dengan kata-kata atau sentuhan atau dua-duanya, hal-hal yang kelihatannya sepele tapi mengakrabkan
4. Beri istri Quality time
Pekerjaan rumah tangga bagi seorang ibu yang tidak bekerja ataupun ibu bekerja sama melelahkannya, harus on terus selama 24 jam, dari senin sampai minggu, so jika kita bekerja sama bisa libur di hari sabtu-minggu, maka beri ibu waktu untuk menikmati dirinya sendiri, refresh lagi dirinya, istilahnya menemukan kembali soulnya, mau jalan-jalan kek, mau tilawah seharian, mau sekedar bersantai kaya dipantai, yang penting terbebas dari rasa khawatir akan pekerjaan rutin di rumah tangga, akhir pekan saatnya ayah turun tangan bersama pasukan merapikan rumah, ibu menjadi ratu di hari itu.
5. saling memaafkan dan berterima kasihlah
menjelang tidur atau setelah solat, saling memaafkan dan berterima kasih untuk hari yang dijalani, akan melumerkan semua prasangka dan perilaku tidak menyenangkan yang telah dilakukan...
Senin, 10 Februari 2014
The Power of Words, The Power of Communication
Hari Ahad, 09 Februari 2014 kemarin saya diminta sharing
pareting bersama ibu-ibu arisan Perumahan The Mansion Arcamanik. tema
yang telah disepakati panitia adalah "Komunikasi Keluarga" wah ini tema
yang paling saya suka, karena komunikasi keluarga saat ini
mengalami stagnasi bahkan kemunduran seiring dengan perkembangan
teknologi.
Di awal perkenalan yang mengungkapkan bahwa mengapa parenting ini menjadi parerenting (dalam bahasa Sunda: sangat penting) karena tidak ada satupun sekolah yang mengajarkan kita bagaimana membagun komunikasi keluarga yang menyenangkan yang membuat semua anggota keluarga nyaman.
Komunikasi adalah tentang HATI (perasaan)
Seperti gambar di atas, pertanyaan-pertanyaan orang tua seputar "bagaimana sekolahmu?" atau "tadi belajar apa?" atawa "ada Pe-er?" bahkan "gimana tadi ulanganmu?" sampai "koq ulangannya nilainya kecil sih" adalah bentuk pertanyaan yang paling tidak ingin diinginkan untuk didengar, maka jawaban standar anak-anak adalah "ga tau" atau "biasa aja" atau "lihat aja di buku penghubung" atawa "ibu sms bu guru aja" bahkan "bunda punya pin bb bu gurukan? bbm aja bun" atau "ayah bisa membacanya di facebook aku".
apa yang salah dengan pertanyaan tentang sekolah? pertanyaan itu membuat anak-anak merasa eneq, setelah berkutat dengan 10 - 11 mata pelajaran, hal yang paling ingin anak dengar adalah "bagaimana kabarmu?" atau "hai sayang, bunda senang kaka sudah pulang, mau bermain apa kita hari ini?" atau "bunda kangen adik, ayo kita ngobrol, bunda siap mendengarkan?"
MisKomunikasi bisa jadi Mispersepsi bukan Miss Universe
sumber gambar: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=703051549715297&set=a.703044763049309.1073741827.703041503049635&type=1&theater¬if_t=photo_comment_tagged atau bisa juga diperoleh di Mamomics
nah ya mispersepsi itu terkadang karena "LUPA MENDENGARKAN" dan "BERASUMSI DULUAN" begitu juga dengan suami atau istri, atau anak siapkan kuping dari pada mulut, ketika anak, istri atau suami berbicara, kadang kondisi di gambar sangat mungkin terjadi dan bikin pembicara yang bermaksud baik jadi bad mood, hehe
oh iya satu hal yang saya garis bawahi, bahwa "anak yang bahagia akan tumbuh dalam keluarga yang bahagia, dan keluarga yang bahagia itu karena hadirnya seorang ibu yang dibahagiakan suami" hehe saya ga ngarang masalah ini, saya ngutip kata-kata seorang pemain basket pro di Oprah Winfrey Show yang terkenal itu lho.
Komunikasi berarti Merubah KATA-KATA
saya membedah tiga periode berbeda (sebenarnya masih banyak, hehe tapi tidak saya bahas semua) dimana orang tua banyak berinteraksi dengan anak, pagi hari, siang/setelah pulang sekolah, dan malam hari
kata-kata orang tua di pagi hari dan persepsi anak:
"Cepat bangun, nanti terlambat" (aduh bu, ibu berisik banget deh)
"kaka jangan nonton aja, cepat mandi" (orang tivinya dinyalani, ya udah aku nonton)
"aduh sarapannya koq lelet sih, cepetan dong" (ibu pasti bilang gitu, kemaren juga gitu)
"ditinggalin ya kalo kamu lelet" (asikk, berarti ga sekolah dong)
wajar jika anak-anak merasa bad mood ketika berangkat sekolah, karena tidak mendapatkan motivasi dari orang tua, justru mendapatkan setumpuk kata perintah yang negatif
Kata-kata ketika anak Pulang sekolah dan persepsi anak
"tadi belajar apa?" (heloo, ibu tolong liat di FB aku ajah)
"ada Pr ga?" (yaah, pasti ditanya Pr)
"gimana tadi ulangannya?" (aduh, please jangan nanya itu)
"koq nilainya jelek sih?" (ibu, aku sudah berusaha, tapi waktunya ulangannya terlalu mepet)
nah tentang ini sudah dibahas yaa...
kata-kata di Malam hari dan persepsi anak :
"Pr-nya udah?" (haah, ibu mengingatkanku pada luka hati)
"udah makan?" (ayo makan bareng)
"udah solat?" (ibu udah solat belum, hehe)
"cepat tidur nanti telat bangunnya?" (tapi televisi dinyalakan)
"kalo ga tidur, ibu panggil satpam" (duh berat amat tugas satpam kudu jagain anak tidur ya)
Bagaimana seharusnya komunikasi orang tua pada anak?
"Mendengarkan"
"mulailah dengan mendengarkan, berarti memberikan energi positif kita untuk anak-anak di pagi hari (canda pagi, uyel-uyelan di kasur), ketika pulang sekolah (siang yang ceria), dan menjelang tidur dengan mendongeng
"Meluangkan waktu"
lupakan cucian, setrikaan, lantai yang kotor, facebook yang menyala, atau eksistensi di socmed, berapa lama waktu yang bisa anda luangkan dengan anak-anak dengan seluruh jiwa ada?
"Perbanyak kata-kata positif"
terkadang ketika kita "melabelisasi" "memerintah" "membandingkan" "mengkritik" "memarahi" "men-judge" "meremehkan" kita bukan mendorong anak untuk lebih termotivasi tapi menjatuhkan harga diri anak-anak kita.
"Mari Ubah Kata-katanya"
tentang DISCOURAGING WORDS dan ENCOURAGING WORDS nanti saya bahas tersendiri yaa
Di awal perkenalan yang mengungkapkan bahwa mengapa parenting ini menjadi parerenting (dalam bahasa Sunda: sangat penting) karena tidak ada satupun sekolah yang mengajarkan kita bagaimana membagun komunikasi keluarga yang menyenangkan yang membuat semua anggota keluarga nyaman.
Komunikasi adalah tentang HATI (perasaan)
Seperti gambar di atas, pertanyaan-pertanyaan orang tua seputar "bagaimana sekolahmu?" atau "tadi belajar apa?" atawa "ada Pe-er?" bahkan "gimana tadi ulanganmu?" sampai "koq ulangannya nilainya kecil sih" adalah bentuk pertanyaan yang paling tidak ingin diinginkan untuk didengar, maka jawaban standar anak-anak adalah "ga tau" atau "biasa aja" atau "lihat aja di buku penghubung" atawa "ibu sms bu guru aja" bahkan "bunda punya pin bb bu gurukan? bbm aja bun" atau "ayah bisa membacanya di facebook aku".
apa yang salah dengan pertanyaan tentang sekolah? pertanyaan itu membuat anak-anak merasa eneq, setelah berkutat dengan 10 - 11 mata pelajaran, hal yang paling ingin anak dengar adalah "bagaimana kabarmu?" atau "hai sayang, bunda senang kaka sudah pulang, mau bermain apa kita hari ini?" atau "bunda kangen adik, ayo kita ngobrol, bunda siap mendengarkan?"
MisKomunikasi bisa jadi Mispersepsi bukan Miss Universe
sumber gambar: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=703051549715297&set=a.703044763049309.1073741827.703041503049635&type=1&theater¬if_t=photo_comment_tagged atau bisa juga diperoleh di Mamomics
nah ya mispersepsi itu terkadang karena "LUPA MENDENGARKAN" dan "BERASUMSI DULUAN" begitu juga dengan suami atau istri, atau anak siapkan kuping dari pada mulut, ketika anak, istri atau suami berbicara, kadang kondisi di gambar sangat mungkin terjadi dan bikin pembicara yang bermaksud baik jadi bad mood, hehe
oh iya satu hal yang saya garis bawahi, bahwa "anak yang bahagia akan tumbuh dalam keluarga yang bahagia, dan keluarga yang bahagia itu karena hadirnya seorang ibu yang dibahagiakan suami" hehe saya ga ngarang masalah ini, saya ngutip kata-kata seorang pemain basket pro di Oprah Winfrey Show yang terkenal itu lho.
Komunikasi berarti Merubah KATA-KATA
saya membedah tiga periode berbeda (sebenarnya masih banyak, hehe tapi tidak saya bahas semua) dimana orang tua banyak berinteraksi dengan anak, pagi hari, siang/setelah pulang sekolah, dan malam hari
kata-kata orang tua di pagi hari dan persepsi anak:
"Cepat bangun, nanti terlambat" (aduh bu, ibu berisik banget deh)
"kaka jangan nonton aja, cepat mandi" (orang tivinya dinyalani, ya udah aku nonton)
"aduh sarapannya koq lelet sih, cepetan dong" (ibu pasti bilang gitu, kemaren juga gitu)
"ditinggalin ya kalo kamu lelet" (asikk, berarti ga sekolah dong)
wajar jika anak-anak merasa bad mood ketika berangkat sekolah, karena tidak mendapatkan motivasi dari orang tua, justru mendapatkan setumpuk kata perintah yang negatif
Kata-kata ketika anak Pulang sekolah dan persepsi anak
"tadi belajar apa?" (heloo, ibu tolong liat di FB aku ajah)
"ada Pr ga?" (yaah, pasti ditanya Pr)
"gimana tadi ulangannya?" (aduh, please jangan nanya itu)
"koq nilainya jelek sih?" (ibu, aku sudah berusaha, tapi waktunya ulangannya terlalu mepet)
nah tentang ini sudah dibahas yaa...
kata-kata di Malam hari dan persepsi anak :
"Pr-nya udah?" (haah, ibu mengingatkanku pada luka hati)
"udah makan?" (ayo makan bareng)
"udah solat?" (ibu udah solat belum, hehe)
"cepat tidur nanti telat bangunnya?" (tapi televisi dinyalakan)
"kalo ga tidur, ibu panggil satpam" (duh berat amat tugas satpam kudu jagain anak tidur ya)
Bagaimana seharusnya komunikasi orang tua pada anak?
"Mendengarkan"
"mulailah dengan mendengarkan, berarti memberikan energi positif kita untuk anak-anak di pagi hari (canda pagi, uyel-uyelan di kasur), ketika pulang sekolah (siang yang ceria), dan menjelang tidur dengan mendongeng
"Meluangkan waktu"
lupakan cucian, setrikaan, lantai yang kotor, facebook yang menyala, atau eksistensi di socmed, berapa lama waktu yang bisa anda luangkan dengan anak-anak dengan seluruh jiwa ada?
"Perbanyak kata-kata positif"
terkadang ketika kita "melabelisasi" "memerintah" "membandingkan" "mengkritik" "memarahi" "men-judge" "meremehkan" kita bukan mendorong anak untuk lebih termotivasi tapi menjatuhkan harga diri anak-anak kita.
"Mari Ubah Kata-katanya"
• Hari
yang indah, semoga Allah menyanyangimu selalu
• Selamat
bergembira, ibu sayang kaka
• Selamat
bobo, semoga Allah memberkahi malam mu
• Selamat
datang, bagaimana harimu?
• Selamat
mimpi indah, ayah sayang adik
• Ibu
bangga sama adik
• Anak
hebat, ayah sayang kamu nak
• Bunda
selalu yakin kamu pasti bisa
• Tidak
apa-apa kalah ya, ayah menghargai usahamu
tentang DISCOURAGING WORDS dan ENCOURAGING WORDS nanti saya bahas tersendiri yaa
Langganan:
Komentar (Atom)






